Studi ketidakaktifan kader posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan, Banjar, Kalimantan Selatan
DOI:
https://doi.org/10.21927/ijnd.2015.3(1).60-67Keywords:
cadres, inactivity, integrated health post, kader, ketidakaktifan, posyanduAbstract
ABSTRACT
Background: Integrated health post is a community empowered health service that also supported by health workers. Cadres are the drive motor of integrated health post. Inactivity of cadres influence the continuity of integrated health post and affect nutritional status early detection of infants and children
underfive. Paramasan Primary Health Care is a region in Banjar Regency that has the highest inactivity cadres level (54.5%).
Objectives: To examine the knowledge of cadres, comprehensiveness of facilities and infrastructure at integrated health post, head of village and health workers support, incentives and awards, and community participation as the background of integrated health post cadres inactivity in Banjar Regency, South
Kalimantan.
Methods: This was a descriptive research with qualitative methods using a case study design. The research was implemented in the Region of Paramasan Primary Health Cares at Banjar Regency, South Kalimantan in April until May 2014. Informants were selected by purposive sampling until get saturated
data. The data collection was done by using 3 methods: in-depth interview of 23 informants, focus group discussion (FGD) of 30 informants, and field observation. Data analysis used in this study was constant comparative method.
Results: Cadres had very low knowledge never joined any training, and also illeterate. The facilities and infrastructure in integrated health post were very limited. Head of village support on cadres and integrated health post were also low. Unscheduled and unstable of incentive numbers and awards received by
cadres was also a problem. The level of community participation was really depended on the activeness of cadres in reminding the schedule of integrated health post activities.
Conclusions: The knowledge of cadres contibuted to the cadres inactivity, such as a poor participation and lack of confidence in attending the activities of the integrated health post.
KEYWORDS: cadres, inactivity, integrated health post
ABSTRAK
Latar belakang: Posyandu merupakan wadah pelayanan kesehatan dari, oleh, dan untuk masyarakat dengan dukungan petugas kesehatan. Kader merupakan motor penggerak posyandu. Tidak aktifnya kader menyebabkan ketidaklancaran pelaksanaan posyandu serta tidak terdeteksinya status gizi bayi dan balita sejak dini. Puskesmas Paramasan merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Banjar dengan tingkat ketidakaktifan kader tertinggi yaitu sebesar 54,5%.
Tujuan: Mengkaji secara mendalam pengetahuan kader, kelengkapan sarana dan prasarana posyandu, dukungan kepala desa dan petugas kesehatan, insentif dan penghargaan kader, serta partisipasi masyarakat ke posyandu sebagai latar belakang ketidakaktifan kader posyandu.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif menggunakan rancangan studi kasus. Pelaksanaan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Paramasan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan pada bulan April hingga Mei 2014. Informan dipilih secara purposive sampling, berlanjut hingga saturasi data. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap 23 orang informan, diskusi kelompok terfokus (DKT) terhadap 30 orang informan, dan observasi lapangan. Analisis data menggunakan metode constant comparative method.
Hasil: Kader memiliki pengetahuan kurang, tidak pernah mengikuti pelatihan, dan tidak bisa baca tulis. Sarana dan prasarana di posyandu sangat kurang, demikian pula dengan dukungan kepala desa terhadap kader, dan posyandu yang tergolong masih minim. Insentif dan penghargaan yang diterima kader dikategorikan tidak rutin dengan jumlah tidak tetap. Tingkat partisipasi masyarakat ke posyandu masih tergantung pada keaktifan kader dalam mengingatkan tentang hari buka posyandu.
Kesimpulan: Pengetahuan kader memberikan kontribusi terhadap ketidakaktifan kader yaitu kurangnya keaktifan dalam menghadiri kegiatan di posyandu.
KATA KUNCI: kader, ketidakaktifan, posyandu
References
Alamsyah D. Pemberdayaan gizi teori dan aplikasi. Yogyakarta: Nuha Medika; 2013.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan tenaga pelaksana gizi puskesmas dalam pembinaan kader posyandu. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2012b.
Departemen Kesehatan RI. Buku kader: telaah kemandirian posyandu. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2000.
Simanjuntak M. Karakteristik sosial demografi dan Faktor pendorong peningkatan kinerja kader posyandu. J Wira Ekon Mikroskil. 2012; 2(1):49–58.
Dinas Kesehatan Banjar. Laporan tahunan program perbaikan gizi masyarakat tahun 2013. Martapura: Dinas Kesehatan Banjar; 2013.
Notoatmodjo S. Promosi kesehatan: teori dan aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta; 2010.
Nugroho H, Nurdiana D. Hubungan antara pengetahuan dan motivasi kader posyandu dengan keaktifan kader posyandu di Desa Dukuh Tengah Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. J Keperawatan. 2008;2(1):1–8.
Hamariyana, Syamsianah A, Winaryati E. Hubungan pengetahuan dan lama kerja kader dengan ketrampilan kader dalam menilai kurva pertumbuhan balita di Posyandu Kelurahan Tegal Sari Kecamatan Candisari Kota Semarang. J Gizi Univ Muhammadiyah Semarang. 2013;
(1):40–8.
Rukmini, Suharmiati, Ristrini. Gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku nakes terhadap faktor risiko dan komplikasi kehamilan dan persalinan sebagai upaya peningkatan rujukan. Bul Penelit Sist Kesehat. 2009; 12(1): 34–41.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman umum pengelolaan posyandu. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2012.
Handajani A, Muzakkiroh U, Rukmini. Upaya pengembangan posyandu madya dan purnama menjadi posyandu mandiri. Bul Penelit Sist Kesehat. 2009; 12(1): 21–33.
Nikmawati E, Kusharto C, Khomsan A, Sukandar D, Atmawikarta A. No Title. J GIZI PANGAN. 2009; 4(3):140–50.
Notoatmodjo S. Ilmu perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010b.
Widagdo L. Kepala desa dan kepemimpinan perdesaan: persepsi kader posyandu di Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara Jawa Tengah 2000. Makara Kesehat. 2006; 10(2): 54–9.
Saripawan Y, Hasanbasri M. Implementasi posyandu supervisi oleh Puskesmas di Pontianak. J Manaj Pelayanan Kesehat. 2007; 10(2): 90–7.
Djuhaeni H. Motivasi kader meningkatkan keberhasilan posyandu. MKB. 2010; 42(4): 140–8.
Rahmadiliyani M, Meililiyanie. Analisis faktorfaktor yang menyebabkan keengganan ibu balita berkunjung ke posyandu di Desa Jingah Habang Hilir Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar. Media Sains. 2012; 4(2): 160–5.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
1. Authors retain copyright and grant the journal right of first publication, with the work [SPECIFY PERIOD OF TIME] after publication simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.  that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
Â
2. Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Â
3. Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
Â

IJND by http://ejournal.almaata.ac.id/index.php/IJND is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.Â