Faktor risiko kejadian stunting pada anak umur 6-36 bulan di Wilayah Pedalaman Kecamatan Silat Hulu, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

Siti Wahdah, M Juffrie, Emy Huriyati

Abstract


ABSTRACT

Background: Stunting in children under five is an indicator of nutritional status that can reflect problem of overall social economic condition in the past. Stunting that occurs in childhood is a risk factor of increasing in mortality rate, low cognitive capability and motoric development, and improper physical function. The incidence of stunting is associated with many factors such as family environment (education, occupation, income, rearing pattern, eating pattern, and number of family members), nutritional factors (exclusive
breastfeeding and duration of breastfeeding), genetic factor, infection disease, and the incidence of low birth weight. The scope of stunting in 2010 were 35,6% and 39,7% in Indonesia and Province of Kalimantan Barat.

Objectives: To identify the risk factors associated with the incidence of stunting in children of 6-36 months in Silat Hulu District of Kapuas Hulu, Province of Kalimantan Barat.

Methods: This was an analytic observational study with cross sectional design. Population of the study were all of underfi ves children at remote area of Subdistrict of Silat Hulu, District of Kapuas Hulu, Province of Kalimantan Barat. Data analysis used chi-square test and logistic regression analysis to identify the
most dominantly determinant stunting variable.

Results: The incidence of stunting was significantly associated with occupation of mother, height of father, height of mother, income, number of family members, rearing pattern, and exclusive breastfeeding supplementation (p<0.05). The incidence of stunting was not associated with occupation of father, eating pattern, duration of breastfeeding, infection disease, and education of mother (p>0.05).

Conclusions: Factors associated with the incidence of stunting were the work of mothers, rearing pattern, family income, number of household members, father’s height, maternal height, and exclusive breastfeeding. The most dominant determinant of risk factors on the incidence of stunting were exclusive
breastfeeding, number of household members, maternal height, income, and father’s height.

KEYWORDS: exclusive breastfeeding, height of father, height of mother, income, stunting

ABSTRAK

Latar belakang: Stunting pada anak balita merupakan indikator status gizi yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masa lampau. Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif dan perkembangan motorik yang rendah, dan fungsi tubuh yang tidak seimbang. Kejadian stunting berhubungan dengan berbagai macam faktor antara lain lingkungan keluarga (pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pola asuh, pola makan dan jumlah anggota rumah tangga), faktor gizi (ASI eksklusif dan
lama pemberian ASI), faktor genetik, penyakit infeksi, dan kejadian BBLR. Menurut hasil riset kesehatan dasar, prevalensi anak balita yang menderita stunting di Indonesia pada tahun 2010 masih tinggi sebesar 35,6%, dan 39,7% di Provinsi Kalimantan Barat.

Tujuan: Mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak umur 6-36 bulan di pedalaman Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasinya adalah seluruh balita yang ada di wilayah pedalaman Kecamatan Silat Hulu Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Analisis data menggunakan uji chi-square dan untuk mengetahui variabel paling determinan terhadap stunting dilakukan analisis regresi logistik.

Hasil: Kejadian stunting berhubungan signifi kan dengan pekerjaan ibu, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, pola asuh, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Kejadian stunting tidak berhubungan dengan, pekerjaan ayah, pola makan, lama pemberian ASI, penyakit infeksi, dan pendidikan ibu (p>0,05).

Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah pekerjaan ibu, pola asuh, pendapatan keluarga, jumlah anggota rumah tangga, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, dan pemberian ASI eksklusif. Faktor risiko determinan terhadap kejadian stunting adalah pendapatan, jumlah anggota
rumah tangga, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, dan pemberian ASI eksklusif.

KATA KUNCI: stunting, pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, tinggi badan, ayah, tinggi badan ibu, pemberian ASI eksklusif


Keywords


exclusive breastfeeding;height of father;height of mother;income;stunting;stunting;pendapatan;jumlah anggota rumah tangga;tinggi badan;ayah;tinggi badan ibu;pemberian ASI eksklusif

Full Text:

PDF

References


Allen L, Gillespie S. What works ? a review of the efficacy and effectivness of nutrition interventions. Manila: ACC/SC and Asian Development Bank; 2010.

Sudiman H. Stunting atau pendek: awal perubahan patologis atau adaptasi karena perubahan sosial ekonomi yang berkepanjangan. Media Litbang Kesehat. 2008;18(1):33–42.

Heningham H, McGregor S. Gizi dan perkembangan anak. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2009.

Indonesia DKR. Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) nasional. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI;

Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas. Profil dinas kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu. Putussibau: Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu; 2010.

Pongou R, Ezzati M, Salomon J. Household and community socioeconomic and environmental determinants of child nutritional status in Cameroon. BMC Public Health. 2006;6(98):1471–2458.

Ramli, Agho K, Inder K, Bowe S, J J, Dibley M. Prevalence and risk factors for stunting and severe stunting among under-fives in North Maluku Province of Indonesia. Biomed Cent Pediatr. 2009;9(64):1471–2431.

Adair L, Guilkey D. Age-specifi c determinan of stunting in Filipino Children. J Nutr. 1997;127:314–20.

Espo M, Kulmala T, Maleta K, Cullinan T, Salin M, Ashorn P. Determinan of linier growth and predictors of severe stunting during infancy in Rural Malaw. Acta Paediatr. 2002;91:1364–70.

Asrar M, Hadi H, Boediman D. Pola asuh, pola makan, asupan zat gizi, dan hubungannya dengan status gizi anak balita masyarakat Suku Nuaulu di Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Utara. J Gizi Klin Indones. 2009;6(2):84–94.

Hizni A, Julia M, Gamayanti I. Status stunted dan hubungannya dengan perkembangan anak balita di Wilayah Pesisir Pantai Utara Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon. J Gizi Klin Indones. 2010;6(3):131–7.

Rahayu L. Hubungan tinggi badan orang tua dengan perubahan status stunting dari usia 6-12 bulan ke 3-4 tahun. Universitas Gadjah Mada; 2011.

Semba R, Pee de S, Sun K, Sari M, Akhter N, Bloem W. Effect of parental formal education on risk of child Stunting in Indonesia and Bangladesh: a cross-sectional study. Lancet. 2008;371(9609):322–8.

Nabuasa C. Hubungan riwayat pola asuh, pola makan, asupan zat gizi terhadap kejadian stunting pada anak usia 24 – 59 bulan di Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timur Tengah Utara Provinsi Nusa tenggara Timur. [Yogyakarta]: Universitas Gadjah Mada; 2011.

Astari L, Nasoetion A, Dwiriani C. Hubungan karekteristik keluarga, pola pengasuhan dan kejadian stunting anak usia 6-12 bulan. Media Gizi dan Keluargai Kel. 2005;29(2):40–6.

Cox D, Anderson A. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.

Ricci J, Becker S. Risk faktor for wasting and sunting among children in Metro Cebu, Philippines. Am J Clin Nutr. 1996;63:966–75.

Husaini M. Peranan gizi dan pola asuh dalam meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak [Internet]. 2008 [cited 2011 Nov 5]. Available

from: http://www.whandi.net

Avianti A. Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi berdasarkan tinggi badan menurut umur pada anak umur 2 tahun di Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah. Universitas Gadjah Mada; 2006.

Manary M, Solomon N. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.

Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1995.

Purnamasari D, Kartasurya M, Kartini A. Determinan growth faltering (guncangan pertumbuhan) pada bayi umur 2-6 bulan yang lahir dengan berat badan normal. Media Med Indones. 2009;43(5):240–6.

Kramer M, Guo T, Platt W, Sevkovskaya Z, Dzikovich I, Collet J, et al. Infant growth and health outcomes associated with 3 compared with 6 months of exclusive breasfeeding. Am J Clin Nutr. 2003;78:291–5.

UNICEF. Penuntun hidup sehat. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2010.

Olwedo M, Mworozi E, Bachaou H, Orach C. Factor associated with malnutrition among children in internally displaced person’s camp, northern Uganda. Afr Health Sci. 2008;8(4):244–52.

Hien N, Kam S. Nutritional status and characteristic related to malnutrition in children under five years of age in Nghean, Vietnam. J

Prev Med Public Heal. 2008;41(4):232–40.




DOI: http://dx.doi.org/10.21927/ijnd.2015.3(2).119-130

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics (IJND) indexed by:

  


Lisensi Creative Commons
View My Stats